Halal bi Halal 1438 H, Rektor : UIN IB Mesti Tekan Gas

 

Padang, Humas, 4/7/17

Kemarin, Senin 3/7/17 mengawali kerja hari pertama pasca lebaran idhul fitri 1438 civitas akademika UIN Imam Bonjol Padang melaksanakan Halal bi Halal di gedung pertemuan Buya Mansyur Dt. Nagari Basa. Hadir dalam acara tersebut para sesepuh dan pensiunan dosen/pegawai serta alumni dan juga pimpinan lembaga mitra kerja UINIB semisal Bank Nagari dll.

Rektor UIN IB Padang, DR. Eka Putra Wirman, M.Ag dalam sambutannya mengungkapkan rasa terimakasih atas jasa para pendiri dan pendahulu, pensiunan (pimpinan dan staf) UIN IB (dulunya IAIN IB). Kisah yang disampaikan Drs. Juher, SH mewakili pensiunan UIN IB harus dijadikan sebagai cemeti bagi civitas akademika UIN IB. Kita sungguh tidak mengharapkan alih status IAIN menjadi UIN IB hanya sekedar perubahahan nama. Namanya UIN tetapi rasanya masih IAIN, bahkan STAIN. Sekalipun harus diakui sampai saat ini rektor belum bisa membubuhkan tanda tangan di atas kertas berkop UIN IB, sampai kemudian seluruh ortaker dan struktur UIN IB diresmikan melalui peraturan menteri Agama RI.

Rektor mengungkapkan bahwa UIN IB harus bertekat memacu kinerja, ibarat berkendara mesti menekan pedal gas. Spidometer kita mau tak mau harus bergerak naik dengan cepat. Menyinggung pesan yang disampaikan sesepuh Prof. Maidir Harun, Dr. Eka Putra menyatakan bahwa UIN IB dibawah pimpinannya sudah mencanangkan 9 khittah UIN IB. Di antaranya tetap dan pasti menjaga koridor ilmu ilmu keislaman yang selama ini menjadi ciri khas IAIN Imam Bonjol Padang.

Acara yang dimulai dengan lantunan ayat suci al-Qur’an oleh qari Ihsan Nuzula (dosen ASN di Fak Tarbiyah, juara MTQ Nasional 2016. juara 5 MTQ Internasional di Iran 2017) berlangsung khidmat. Drs. H. Juher, SH (pensiunan dan juga pengurus Alumni UIN IB se-Jabodatabek) yang didaulat memberikan sambutan mewakili pensiunan, mengungkapkan kondisi IAIN IB diawal berdiri. Tidak hanya kekurangan sarana dan prasarana, terlebih lagi kekurangan SDM. Bayangkan katanya; bayangkan sebuah perguruan tinggi hanya memliki dua orang sarjana yang mengatur administrasinya. Sementara dosennya kebanyakan tamatan strata 1, bahkan ada yang sarjana muda.

Namun kondisi tersebut justru menjadi cemeti bagi civitas akademika untuk meningkatkan kualitas IAIN IB untuk lebih berkembang dengan baik, sehingga menjadi perguruab tinggi agama negeri yang diperhitungkan di Indonesia yang merupakan IAIN tertua di pulau Sumatera. Juher menambahkan bahwa dalam kondisi serba kekurangan, civitas akademika IAIN IB waktu itu bekerja dengan penuh semangat dalam suasana yang enjoy.

Prof. DR. Maidiri Harun, MA (mantar rektor) yang diminta memberikan sambutan mewakili sesepuh UIN IB dengan suara khasnya memberikan apresiasi atas pelaksanaan Halal bi Halal guna mempererat silaturrahmi keluarga besar UIN IB. Ini hahal bi halal pertama kita boleh menyebut UIN Imam Bonjol, tidak lagi IAIN Imam Bonjol. Sekalipun setelah alaih status IAIN IB menjadi UIN IB, ortaker UIN IB masih menggunakan yang lama.

Terkait dengan alih status IAIN IB menjadi UIN IB, Prof. DR. Maidir menyampaikan tiga pesan kepada civitas akademika di bawah pimpinan Dr. Eka Putra Wirman, M.Ag. Pertama, diharapkan UIN IB tetap menjaga khittah keislaman yang menujadi ciri khas IAIN IB sebelumnya. Perubahan dari institut menjadi universitas jangan sampai menghilangkan kharakter perguruan tinggi agama, terlebih UIN IB berada dalam ranah Minangkabau. Kedua, harus selalu menjaga dan membangun silaturrahmi yang akrab antar civitas akademika, pensiunan, pemda dan stakeholder lainnya.  Silaturrahmi yang terjalin dengan baik dan akrab akan menjadi satu faktor yang mempermuda mencari solusi dari persoalan yang dihadapi.

Ketiga Maidir mengharapkan civitas akademika UIN IB dapat mengingkatkan suasana kerja yang sehat, mulai dari pimpinan sampai pada tingkat paling bawah. Suasana kerja yang sehat akan meminialisir persoalan persoalan yang sebenarnya tidak perlu terjadi dan sekaligus akan memacu etos kerja seluruh unit. EN.