Dirjen Pendis Inisasi Terbentuknya IKA PTKIN Indonesia

JAKARTA —— Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama R.I., menginisiasi terbentuknya Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seluruh Indonesia. Hal ini dicanangkan setelah melihat potensi besar dan posisi PTKIN yang telah diperhitungkan di tingkat dunia. Saatnya, self confident sebagai kelompok elite studi keagamaan di tingkat dunia itu disatukan dalam bingkai kerja lebih besar untuk kemajuan bangsa-negara, agama dan peradaban dunia. PTKIN bukanlah perguruan tinggi kelas dua.

Demikian diungkapkan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A, saat membuka secara resmi Pertemuan Nasional IKA PTKIN, di Jakarta, Kamis (23/4) malam.

“IKA PTKIN adalah entitas baru. Kita mesti bangga, atas kemajuan dan menjadikan kekuatan membangun bangsa. Faktanya, PTKIN kini, sebut saja UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UIN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, diperhitungkan di tingkat dunia,” ungkapnya di hadapan 59 utusan pengurus Iluni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia.

Dipaparkannya, untuk religion studies, dunia mulai mengakui namun belum semua tahu dan paham bagaimana kajian-kajian keagamaan di PTKIN telah berkembang pesat dan diakui dunia. Ini perlu diviralkan. Melalui IKA PTKIN ini, salah satu jalan untuk memberi tahu, menata barisan, memperlihatkan kekuatan agar bisa berbuat lebih banyak untuk bangsa, negara dan agama.

“Saya diperintahkan waktu pak Jusuf Kalla jadi Wapres untuk melihat bagaimana sebuah kampus di Amerika bisa maju. Ketika itu kemenag sedang merancang Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Salah satunya adalah kontribusi alumni yang besar, disamping mahasiswa dan kerja sama di dunia industri. Hal ini belum terjadi di PTKIN, Ikatan Keluarga Alumni harus ambil bagian di sisi ini,” paparnya.

Ke depan, alumni dan almamater harus bersinergi lebih besar, berkoordinasi, dalam bingkai kampus berdampak dan tentunya produktif untuk kampus. “Peran eksternal dan internal alumni harus ditata, didata, sehingga mendapatkan gambaran kiprah PTKIN. Jangan hanya mengakui yang telah muncul di ruang publik saja, tapi lihat lagi kiprah di ruang-ruang tanpa publisitas, apa saja kerja alumni. Alumni juga begitu, laporkan ke kampus, beri masukan,” ujarnya.

Pada acara dengan tema “Sinergi Alumni PTKIN dalam menjawab Tantangan Sosial, Ekonomi, dan Keagamaan,” tersebut, Direktur Pendidikan Islam, Prof. Dr. Amien Suyitno, M.Ag. menyatakan IKA PTKIN dibentuk dalam rangka memperkuat relasi alumni dan almamater untuk membangun bangsa, negara dan agama. Mereka sudah berkiprah di sector formal dan informal selama ini harus diakui bagian penting dari peradaban yang dibangun PTKIN. Ada yang di legislatif, eksekutif, legislatif, hingga sector swasta harus diajak kembali membangun kampus.

“Hubungan ini seperti ibu susuan, Relasi alumni dengan almamater itu seperti ibu susuan, yang terus dinanti kebermanfaatannya bagi kampus. Atas kiprah alumni. Kebermanfaatan secara eksternal dan internal, tetap memiliki makna yang sangat besar bagi bangsa negara dan agama,” jelasnya.

Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi Publik, Ismail Cawidu dalam paparannya bertajuk Urgensi Pembentukan Forum Nasional IKA PTKIN untuk Konsolidasi Keumatan dan Kebangsaan, menegaskan peran PTKIN selama ini di Indonesia sebagai pusat produksi gagasan, kaderisasi kepemimpinan ummat, penjaga nilai kebangsaan. Paling tidak, ada dua kekuatan strategis. Pertama, alumni yang tersebar di berbagai sector kehidupan; kedua, para doctor dan guru besar yang menjadi otoritas keilmuan dan moral. Keduanya merupakan potensi besar yang belum terkonsolidasi.

Menurutnya, masalah yang dihadapi ummat dan bangsa Indonesia yang membutuhkan peran lebih besar IKA PTKIN adalah ideologis (nilai dan identitas), ekonomi (kesejahteraan dan keadilan), Pendidikan (SDM dan literasi), tata Kelola (integritas dan kepemimpinan). “Keempatnya, saling terhubung dan menentukan kemajuan bangsa,” katanya.

Acara yang digelar selama tiga hari ini, akan membentuk kepengurusan dan diakhiri dengan pengukuhan oleh Menteri Agama R.I., Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA. yang akan dihadiri oleh seluruh rektor PTKIN. [] AK

About Author