Oleh: Duski Samad
Ketua Senat UIN Imam Bonjol
Hari Santri diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan hari Santri adalah moment bagi mereka yang sedang nyatri, (siswa dan mahasiswa) yang belajar di Pondok Pesantren dan Perguruan Tinggi Islam, mereka yang alumni, pimpinan, guru dan semua pihak yang punya hubungkait dengan dunia Pesantren, Madrasah dan Perguruan Tinggi Islam.
Hari Santri adalah saatnya keluarga besar santri untuk merefleksikan jati diri, peran, fungsi dan arti penting santri bagi umat dan bangsa, dulu, kini dan di masa datang.
Ditengah hiruk pikuk modernisasi, digitalisasi, perang, kecerdasan buatan (AI), perebutan pengaruh kaum santri untuk tujuan mengumpulkan suara memenangkan kontestasi demokrasi, peringatan hari Santri 2023 mengambil tema Jihad Santri, Jayakan Negeri.
JIHAD SANTRI
Maksud yang terkandung dalam jihad santri luas cakupannya, tulisan ini ingin mengungkap jihad utama yang wajib melekat kuat dihati setiap mereka yang pernah hidup di dunia santri, spektrum jihad santri dapat dibaca pada (QS. At-Taubah 9: Ayat 122)
Ada pesan penting yang disuarakan ayat di atas dalam menjaga keutuhan jihad santri.
- Jihad di Medan Perang
Jihad dalam makna perang melawan musuh Islam adalah kewajiban yang melekat pada setiap santri. Mafhum mukhalafah dari pangkal ayat itu bahwa perang untuk menegakkan dan mempertahankan kebenaran Islam adalah kewajiban.
Maknanya, santri tak boleh lupa dan terus menyiapkan kemampuan bela diri bila saatnya datang panggilan untuk jihad fisik, jihad mengangkat senjata, seperti Fatwa Jihad yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asari ketika negara terancam oleh penjajah.
Santri mesti siap bangkit, bergerak ke medan laga, ketika agama, umat dan bangsa diusik oleh anasir-anasir apapun, apakah itu berasal dari dalam negeri atau pun ancaman dari pihak luar.
Point pentingnya santri adalah pasukan cadangan yang siap bergerak dan digerakkan bila kedaulatan agama, umat dan bangsa terusik. Santri adalah garda terdepan penegak baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Santri adalah tameng hidup untuk tegaknya kebenaran Islam, berhenti nya perusakan terhadap umat dan bangsa.
2.TAFAQQUHFIDIN
Jihad tafaqquhfidfin kaum santri di era digital ini hendaknya semangkin terkonsolidasi dan terencana dengan baik dan terukur. Pengkajian dan pengajian mesti dilakukan secara paralel, tanpa harus melemahkan satu dengan yang lain.
Pengkajian maksud mengembangkan santri dan institusi pencetak santri mesti bergerak cepat menjembatani alam pikiran dikhotomi antara pendidikan umum dengan pendidikan agama.
Investasi dan kontestasi dalam pendidikan sains di Pondok Pesantren, Madrasah dan Perguruan Tinggi Islam untuk mengwujudkan pengkajian yang luas dan mendalam tentang alam semesta (rahmatan lil alamin) adalah program yang harus diseriusi guna menjemput ketertinggalan umat Islam di era moderen.
Pengajian yang berkaitan dengan nash, norma, nilai dan pemikiran Islam yang orisinil dan berbasis realitas adalah juga sangat pentingnya untuk dilakukan benar-benar mendalam (tafaqquh). Pengajian kitab, buku dan atsar yang dangkal dan sambil lalu menjadi sebab mudah terjadinya penyimpangan pemahaman.
Pikiran keras tak beralasan, tindakan prilaku anarkis yang mengatasnamakan agama , sikap fundamentalis yang mudah mengkafirkan orang yang berbeda paham, pola berfikir radikal yang mencurigai perbedaan dengan sinis dan ada yang sampai pada tingkat teroris adalah disebabkan lemahnya pengajian pada sumber yang orisinil.
Tafaqquhfiddin yang benar dan baik diyakini akan membentuk santri yang moderat, inklusif dan mampu beradaptasi dengan kenyataan sosial yang ada. Kaidah ushul fiqih, al muhafadzah al qadimussalih, wal alkhzul bil jadidil aslah (menegakkan tradisi lama yang baik dan sekaligus mendayagunakan kebaikan yang ada sekarang) akan mudah di praktikkan oleh santri yang tafaqquhnya kuat.
PEMBERDAYAAN UMAT TIADA HENTI
Jihad santri, sekaligus dapat menjayakan bangsa, ketika kaum santri efektif menjadi pengerak umat dan bangsa. Santri yang sudah terlatih hidup sederhana (zuhud), terbiasa dalam iklim yang ramah dengan siapapun (ukhuwah) dan tidak berorientasi material berkelebihan (qanaah) adalah asset SDM mulia, bernilai tinggi, di saat virus ganas dari kehidupan materilistrik, hedonistik dan pragmatis menjakiti elemen masyarakat.
Santri yang tiada henti belajar dan terus memperbaharui pengetahuan untuk menggerakkan umat adalah tuntutan era digital yang meniscayakan relasi sosial begitu mudah rapuh dan “dimainkan” untuk yang tak benar.
Niat tidak baik, tujuan jangka pendek, iming-iming material dan janji politik di tahun politik ini begitu mudah disampaikan, kaum santri diminta tidak terkecoh atau ikut bergabung dengan praktik tercela itu.
Jihad santri menjaga umat dan bangsa agar jangan menjadi mangsa kaum kapitalis, penjual ideologis, dan pengejar jabatan di legislatif dan eksekutif adalah kerja berat yang menjadi keharusan santri.
Penutup kalam patut rasanya disampaikan terima kasih kepada Pemerintah c.q Kementerian Agama RI yang sudah memperjuangkan dan memberikan dukungan bagi eksistensi Santri dan Pondok Pesantren untuk kejayaan Indonesia. Amin.