MENAKAR ILMU KEISLAMAN ALUMNI UIN

Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang
Refleksi Wisuda ke 94 UIN Imam Bonjol Senen, 27 Oktober 2025

Transformasi kelembagaan dari IAIN (Institut Agama Islam Negeri) menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) merupakan tonggak penting dalam modernisasi pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Namun, di tengah modernisasi tersebut muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana alumni UIN masih memiliki kedalaman ilmu keislaman sebagaimana tradisi keilmuan di masa IAIN? Artikel ini menganalisis perubahan epistemologi keilmuan, struktur kurikulum, karakter input mahasiswa, dan tradisi akademik yang berkembang dalam dua periode kelembagaan tersebut. Analisis menunjukkan bahwa transformasi menuju universitas memperluas jangkauan ilmu, namun berpotensi mengikis kedalaman spiritual dan epistemologis keislaman jika tidak dikelola secara proporsional.

Transformasi IAIN menjadi UIN merupakan hasil dari tuntutan zaman untuk mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum. Sejak awal 2000-an, perubahan tersebut dilandasi paradigma integrasi keilmuan Islam dan sains modern (Abdullah, 2006). Namun, perubahan ini juga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya “sekularisasi epistemologis” — di mana dimensi spiritual dan normatif keilmuan Islam mulai bergeser ke arah ilmiah-positivistik (Azra, 2012).

Di tengah orientasi baru ini, muncul pertanyaan reflektif: Apakah alumni UIN tetap memiliki kedalaman ilmu keislaman dan komitmen ruh keulamaan seperti alumni IAIN? Pertanyaan ini penting karena menentukan arah masa depan PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) sebagai penjaga nilai dan keilmuan Islam di tengah perubahan global.

KAJIAN TEORI

1.Transformasi PTKIN di Indonesia

Menurut Azyumardi Azra (2006), IAIN didirikan untuk memperkuat studi Islam secara akademis dalam rangka mencetak ulama-intelektual. Namun, dengan munculnya UIN, paradigma keilmuan beralih ke arah integratif — mencoba menggabungkan wahyu dan akal dalam sistem universitas modern (Abdullah, 2014).
Transformasi ini disebut paradigma pohon ilmu, di mana ilmu agama menjadi akar, sementara cabang-cabangnya adalah ilmu sosial, humaniora, dan sains (Abdullah, 2016).

2.Epistemologi Keilmuan Islam

Dalam epistemologi Islam klasik, sumber ilmu meliputi tiga jalan utama: bayani (teks), burhani (rasional), dan irfani (intuisi spiritual) (al-Jabiri, 1991). IAIN menekankan bayani–irfani, sedangkan UIN berupaya menyeimbangkan ketiganya. Namun, tantangan muncul ketika pendekatan burhani–positivistik lebih dominan karena tekanan sistem akademik modern.

3.Pendidikan Islam dan Spiritualitas Akademik

Pendidikan Islam bertujuan membentuk insan ulul albab — manusia berilmu dan berakhlak (QS. Ali Imran [3]:190–191). Menurut Rahardjo (2015), pendidikan Islam tidak hanya menghasilkan intelektual, tetapi juga menumbuhkan kesadaran moral dan spiritual. Dalam konteks UIN, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara kompetensi akademik dan kedalaman ruhaniyah.

ANALISIS

1.Kurikulum:
Dari Kedalaman ke Integrasi

Kurikulum IAIN berorientasi pada pendalaman disiplin keislaman klasik, seperti Ulumul Qur’an, Ulumul Hadis, Fiqih, Ushul Fiqih, Tauhid, Kalam, dan Tasawuf.
Sebaliknya, kurikulum UIN menekankan integrasi interdisipliner, dengan mata kuliah seperti Ulumul Qur’an dan Hadis, PSPI (Pemikiran dan Studi Islam), serta Filsafat Islam.

Perbandingan mendasar:

Aspek IAIN- UIN

Fokus Ilmu Tradisi Keislaman Klasik Integrasi Keilmuan
Pendekatan Normatif–Tekstual Analitik–Interdisip liner
Capaian Utama Ulama dan Guru Agama Akademisi dan Peneliti Islam

Transformasi ini memperluas spektrum keilmuan, namun mengurangi intensitas penguasaan kitab dan nalar fiqh klasik, yang menjadi identitas utama lulusan IAIN.

2.Input Mahasiswa: Dari Santri ke Mahasiswa Umum

Pada masa IAIN, mahasiswa umumnya berasal dari Madrasah Aliyah dan pesantren, sehingga memiliki bekal bahasa Arab dan literasi agama yang kuat.

UIN membuka diri untuk semua latar belakang pendidikan — termasuk SMA umum dan SMK — yang memperluas akses, tetapi menimbulkan disparitas epistemik dalam penguasaan dasar ilmu keislaman.

Akibatnya, banyak dosen di UIN harus mengulang materi dasar (tajwid, nahwu, sharaf, ushul fiqh) yang seharusnya sudah dikuasai di tingkat sebelumnya.

“Demokratisasi akses pendidikan perlu diimbangi dengan afirmasi keilmuan agar universitas tetap menjadi ruang tafaqqahu fiddin, bukan sekadar ruang akademik.”
Duski Samad (2024)

3.Tradisi Akademik: Dari Keulamaan ke Akademisme

IAIN dikenal sebagai Lembaga Keislaman dan Ilmiah, dengan tradisi halaqah, musyawarah kitab, dan pembentukan adab keilmuan.
UIN bertransformasi menjadi Lembaga Akademik Modern, dengan tekanan pada riset, publikasi Scopus, dan akreditasi internasional.

Kecenderungan ini menimbulkan dua wajah baru:

Positif: memperkuat kapasitas ilmiah dan reputasi global.

Negatif: memunculkan “dosen riset” yang kurang menyatu dengan ruh dakwah dan spiritualitas.

Seperti dikatakan oleh Amin Abdullah (2019), “UIN jangan berhenti pada universitas riset, tetapi menjadi universitas rahmatan lil ‘alamin.”

4.Kekhasan PTKIN: Esensi Islamic Studies

Ciri utama PTKIN adalah integrasi wahyu, akal, dan budaya lokal.
Islamic Studies bukan hanya studi agama, tetapi studi tentang manusia dan kehidupan dalam kerangka wahyu.

Model ideal PTKIN adalah:

Ontologi: Tauhid sebagai dasar eksistensi ilmu

Epistemologi: Wahyu dan akal sebagai sumber pengetahuan

Aksiologi: Akhlak sebagai tujuan ilmu

Konsep ini menegaskan bahwa keilmuan Islam tidak dapat dipisahkan dari moralitas, spiritualitas, dan misi kemanusiaan (Fazlur Rahman, 1982).

REKOMENDASI

1.Reorientasi Kurikulum

Perlu menyeimbangkan ilmu klasik (tafaqquh fiddin) dengan sains kontemporer, agar alumni tetap memiliki kedalaman spiritual dan ketajaman analisis ilmiah.

Wajibkan kembali mata kuliah “Kitab Kuning dan Tradisi Ulama Nusantara” di setiap fakultas.

2.Reformasi Input Mahasiswa

Lakukan bridging course bagi mahasiswa non-madrasah/pesantren untuk memperkuat dasar keislaman.

Bentuk sistem kelas intensif bahasa Arab dan kajian nash klasik di semester awal.

3.Revitalisasi Tradisi Akademik Islami

Hidupkan kembali halaqah ilmiah, forum kitab, dan musyawarah keulamaan di lingkungan kampus.

Dosen tidak hanya peneliti, tetapi juga murabbi ruhani bagi mahasiswa.

4.Penguatan Identitas PTKIN

UIN harus menegaskan diri sebagai universitas ulul albab, bukan sekadar universitas publik dengan label Islam.

Perlu strategi nasional untuk memperkuat branding akademik Islam Nusantara di tingkat global.

PENUTUP

Transformasi dari IAIN ke UIN adalah keniscayaan sejarah dalam menghadapi modernitas ilmu dan globalisasi pendidikan. Namun, modernisasi tidak boleh menanggalkan spiritualitas dan tradisi keulamaan yang menjadi fondasi utama ilmu Islam.

Ke depan, UIN harus mampu menampilkan wajah baru pendidikan Islam: intelektual, profetik, dan berakar pada tradisi tafaqqahu fiddin.

“Modernisasi boleh menambah cabang, tetapi akar keilmuan Islam tidak boleh dipangkas.”— Duski Samad-

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin. (2006). Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Abdullah, M. Amin. (2014). “Rekonstruksi Sains Keagamaan di UIN.” Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 3, No. 2.

al-Jabiri, Muhammad Abid. (1991). Naqd al-‘Aql al-‘Arabi. Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-‘Arabiyah.

Azra, Azyumardi. (2012). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana.

Rahardjo, Dawam. (2015). Islam dan Transformasi Sosial Ekonomi. Jakarta: LP3ES.

Rahman, Fazlur. (1982). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press.

Samad, Duski. (2024). Refleksi Keislaman dan Akademik di PTKIN Indonesia. Padang: UIN Imam Bonjol Press.

About Author