Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang salah satu perguruan tinggi di Sumatera Barat yang menerima buku hibah 7.080 buku Sastra Klasik Tamil dari Government Of Tamil Nadu, India, di Istana Gubernur Sumatera Barat, Jum’at, (24/07/2026).
Acara penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, acara ini sehubungan dengan program diplomasi budaya dan penguatan literasi, International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) yang diselenggarakan oleh SatuPena Sumatera Barat.
Buku hibah diterima langsung oleh wakil rektor III Prof. Nelmawarni S.Ag., M.Hum., Ph.D dan ketua International Office (IO) Dr. Zulfis, S.Ag, M.Hum yang mewakili Rektor (UIN) Imam Bonjol Padang. Buku hibah dibagikan kepada 26 Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, dan Lembaga Literasi di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut Ketua SatuPena Sumatera Barat sekaligus Founder & Chairperson IMLF-4, Dra. Hj. Sastri Yunizarti Bakry, Akt., M.Si., CA., QIA., menjelaskan bahwa koleksi buku yang diserahkan merupakan bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang.
Koleksi tersebut dikemas dalam empat boks yang memuat berbagai referensi penting, mulai dari karya sastra klasik hingga sastra modern. Salah satu koleksi menghadirkan naskah-naskah sastra yang berasal dari rentang tahun 1500–2000 sebagai rujukan kajian.
“Umur isi bukunya 2000 tahun yang lalu tapi sudah di produksi dalam kemasan baru tapi isinya berumur 2000 tahun lebih” ujarnya.
Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi, menyambut baik penyerahan koleksi buku kepada perguruan tinggi di Sumatera Barat.
Menurutnya, karya-karya yang diserahkan memiliki nilai sejarah dan kebudayaan yang tinggi, termasuk sejumlah literatur yang mengangkat peradaban berusia sekitar dua ribu tahun.
Dalam sambutannya, Mahyeldi juga menyinggung temuan-temuan arkeologis di Sumatera Barat yang menunjukkan jejak peradaban sejak sekitar dua ribu tahun lalu.
Ia menyebut berbagai bukti budaya yang diungkap dalam penelitian, termasuk temuan yang telah dipaparkan oleh Kementerian Kebudayaan, menjadi penguat bahwa masyarakat Minangkabau telah memiliki peradaban dan budaya sejak masa awal Masehi.
Namun, ia mengakui masih banyak bukti sejarah dan budaya yang belum terdokumentasikan secara baik sehingga memerlukan perhatian bersama.
“Dengan adanya berbagai fakta dan temuan tersebut, anggapan yang selama ini berkembang dapat dipatahkan. Sumatera Barat sesungguhnya telah memiliki budaya yang berkembang jauh sejak masa Masehi, dan masyarakat Minangkabau telah membangun peradabannya sejak waktu itu,” ujar Mahyeldi. [Melda Juwita]