Lomba puisasi dalam rangkaian Semarak Ekspresi Islam dan Budaya (SEIBA) resmi digelar di Gedung J Kampus III UIN Imam Bonjol Padang, Senin (29/09). Sebanyak 20 mahasiswa dari berbagai fakultas ambil bagian dalam kompetisi yang menjadi pembuka rangkaian SEIBA tahun ini.
Para peserta menampilkan karya puisi dengan tema beragam, mulai dari warisan budaya, cinta tanah air, hingga kritik sosial. Judul-judul puisi yang dibawakan di antaranya Jejak Leluhur di Denyut Zaman karya Neza Julia Putri (Fakultas Syariah dan Hukum), Cinto Tahalang Adaik karya Mardatillah (Fakultas Adab dan Humaniora), hingga Aku Melihat Indonesia karya Muhamad Fajar (Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi).
Suasana lomba berlangsung khidmat dengan lantunan puisi yang dibawakan penuh penghayatan. Beberapa karya juga menyuarakan kecintaan pada budaya Minangkabau, seperti Cahaya Redup Tradisi Minang di Pelukan Ibu Pertiwi karya Saima Wanita, dan Rumah Gadang Bercerita karya Lezi Putri Fadila.
Defi Wulan Rohmadona selaku panitia mengatakan, bahwa puisasi dipilih sebagai lomba pembuka karena dianggap mampu menghadirkan nuansa sastra yang kental sekaligus menyampaikan pesan moral dan budaya.
“Mahasiswa dari berbagai jurusan berani menampilkan kreativitasnya melalui puisi. Ini bukti bahwa sastra masih hidup di kalangan generasi muda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, bahwa penilaian lomba puisi terdiri dari pemahaman isi dan pesan puisi, aspek struktur yang mencakup diksi, imajinasi, dan makna, materi puisi, serta aspek penampilan yang meliputi intonasi, ekspresi, gaya, adab, kostum, volume suara, dan artikulasi.
“Keempat aspek ini masing-masing diberi bobot 10, 20, 30, dan 40,” lanjut panitia acara bagian puisi tersebut.
Lomba hari ini dikhususkan bagi mahasiswa UIN Imam Bonjol, sementara pada hari kedua, Selasa (30/09), panggung puisi akan terbuka untuk peserta dari luar negeri dan PTKIN di luar Sumatera Barat. Pemenang lomba akan diumumkan pada malam puncak SEIBA 2025.