PADANG — Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd, mengajak seluruh civitas akademika untuk tampil sebagai agen perubahan yang aktif menebar nilai moderasi beragama sekaligus kepedulian terhadap lingkungan hidup. Ajakan tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Pelatihan Pelopor Moderasi Beragama dan Ekoteologi 2026 yang digelar di Hotel Imam Bonjol, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Padang, Selasa (9/6/2026).
Dalam sambutannya yang disampaikan secara daring dari Surabaya, Rektor menegaskan pentingnya transformasi diri yang berkelanjutan. “Jangan pernah berhenti melakukan perubahan diri, menjadi lebih baik, dan memberi dampak nyata bagi kehidupan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa moderasi beragama tidak cukup berhenti pada tataran wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam menjaga lingkungan sosial dan alam. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian integral dari spiritualitas dan praktik keagamaan yang utuh.
Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari program Kementerian Agama Republik Indonesia sekaligus mendukung pencapaian indikator kinerja utama (IKU) perguruan tinggi. Rektor berharap peserta mampu menjadi pelopor yang menyebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah kompleksitas tantangan sosial saat ini.
“Jadilah pelopor yang menebar manfaat dan kebaikan. Kepedulian terhadap lingkungan sosial dan lingkungan hidup harus berjalan seiring dengan penguatan spiritualitas,” tegasnya.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Pusat Moderasi Beragama dan Pewarisan Budaya di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Imam Bonjol Padang. Ketua LP2M, Prof. Dr. H. Wakidul Kohar, M.Ag, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membangun kesadaran sekaligus gerakan nyata di kalangan dosen dan tenaga kependidikan.
“Pelatihan ini tidak hanya memberi pencerahan, tetapi juga mendorong lahirnya gerakan konkret moderasi beragama dan kepedulian lingkungan di kampus,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pusat Moderasi Beragama dan Pewarisan Budaya, Dr. Abdullah Khusairi, MA, melaporkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai unsur di lingkungan kampus. Mereka terdiri dari dosen muda dan tenaga kependidikan lintas fakultas, mulai dari Fakultas Syariah, Tarbiyah dan Keguruan, Ekonomi dan Bisnis Islam, Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Ushuluddin, Adab dan Humaniora, Pascasarjana, hingga unit-unit pendukung lainnya.
Secara keseluruhan, tercatat sebanyak 50 peserta yang terlibat dalam pelatihan ini, mencerminkan keterwakilan lintas disiplin dan unit kerja di lingkungan UIN Imam Bonjol Padang.
Pelatihan berlangsung selama tiga hari, 9–11 Juni 2026, dengan rangkaian materi yang komprehensif. Agenda kegiatan mencakup pemetaan kehidupan beragama di Indonesia, analisis sosial dengan pendekatan iceberg analysis, penguatan konsep moderasi beragama, hingga strategi implementasi ekoteologi dalam merespons krisis lingkungan.
Para peserta juga mendapatkan pembekalan terkait strategi penguatan moderasi beragama melalui pendekatan reflektif dan aksi (reframing dan reacting), serta diskusi mendalam mengenai krisis ekologi dan relevansi ajaran agama dalam menjawab tantangan tersebut.
Pada hari terakhir, materi difokuskan pada penguatan ekoteologi dalam ekosistem pendidikan keagamaan, sekaligus merumuskan rekomendasi strategis sebagai tindak lanjut pelatihan.
Adapun narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini berasal dari berbagai institusi, di antaranya KH. Marzuki Wahid, MA dari UIN Syekh Nurjati Cirebon, Prof. Dr. Muhammad Yusuf, MA dari UIN Mahmud Yunus Batusangkar, serta Media Eka Putra dari Badan Diklat Kementerian Agama.
Melalui pelatihan ini, UIN Imam Bonjol Padang menegaskan komitmennya untuk memperkuat moderasi beragama yang berkelanjutan, sekaligus membangun kesadaran ekologis sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan sosial di tengah dinamika zaman. | AK


