Seminar Internasional, yang bertema Humaniora International Conference (HumICom) resmi digelar di Hotel ZHM Premiere Padang. Menghadirkan para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi serta lembaga kebudayaan, untuk membahas peran strategis humaniora dalam merawat peradaban di tengah perkembangan teknologi modern, Sabtu (22/11).
Ketua Pelaksana, Dr. Erasiah, M.A., dalam laporannya menyampaikan, terselenggaranya kegiatan ini merupakan hasil kerja sama intensif antar panitia dan para peserta dari berbagai unsur.
Ia menegaskan, bahwa keterlibatan elemen terkait menjadi bagian penting dalam mendukung akreditasi dan kualitas acara. “Para panitia memang sengaja menghadirkan elemen yang terkait,” ujarnya.
Peserta yang hadir berasal dari lingkungan dosen Fakultas Adab dan Humaniora, dosen UIN Imam Bonjol Padang, Majelis Guru Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, MGMP Bahasa Arab tingkat Sumbar, unsur pustakawan, Balai Pelestarian Wilayah Sumbar, Balai Bahasa Sumbar, mahasiswa S1 dan S2 UIN IB, serta para alumni Fakultas Adab yang dipimpin oleh Dr. Ahmad Zikri, M.A.
Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Prof. Dr. H. Taufur Rahman, M.Ag., M.Hum., dalam sambutannya menyebutkan, seminar ini sebagai bentuk apresiasi terhadap Dies Natalis UIN Imam Bonjol Padang. “Semoga seminar ini bermanfaat untuk kita semua,” ungkapnya sembari memberikan ucapan terima kasih kepada narasumber dan seluruh pihak yang berkontribusi menyukseskan acara.
Sementara itu, Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd menekankan, di tengah perubahan pesat abad ke-21, ilmu humaniora tetap menjadi “jiwa peradaban”.
Ia menegaskan, sejarah, bahasa, sastra, budaya, dan filsafat merupakan kompas moral yang menentukan etika sosial dan arah kemanusiaan. “Tanpa humaniora, kemajuan teknologi berisiko kehilangan jiwa,” ujarnya.
Dalam pidatonya, Rektor turut menggarisbawahi pentingnya konferensi sebagai ruang refleksi terhadap hubungan antara warisan, peradaban, dan identitas Dunia Melayu.
Ia menyebutkan, dunia Melayu sebagai ranah peradaban yang inklusif, adaptif, serta kaya nilai moral seperti budi, adat, dan muafakat yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Rektor juga mendorong kolaborasi internasional melalui pembangunan Konsorsium Dunia Melayu untuk Studi Humaniora sebagai wadah riset bersama, pertukaran akademik, dan publikasi lintas negara. “Melestarikan warisan bukan hanya menoleh ke masa lalu, tetapi menafsirkannya untuk menerangi masa depan,” tegasnya.
Dengan menghadirkan narasumber terbaik dan partisipasi lintas lembaga, HumICom 2025 diharapkan menjadi momentum memperkuat kajian humaniora yang kritis, relevan, dan berakar pada nilai-nilai peradaban Melayu-Islam.