Oleh M. Fuad Nasar
Direktur Jaminan Produk Halal Kemenag RI
Pertemuan Tahunan Tidak Resmi Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) ke-21 tahun 2025 di Melaka Malaysia telah berlangsung dengan sukses dan berkesan di hati para peserta. Pertemuan penting itu
didahului dengan agenda SOM MABIMS (Senior Officials Meeting) ke-49, Mesyuarat Jawatan Kuasa Teknikal Halal MABIMS, Halal Summit, dan menampilkan Pavilion empat negara di MITC (Melaka Internasional Trade Centre), dari tanggal 15 sampai
dengan 19 Oktober 2025.
Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, MA yang hadir pada pertemuan puncak MABIMS, Minggu 19 Oktober 2025, menyampaikan usulan menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat peradaban Islam masa depan. Menurut Nasaruddin Umar, Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura memiliki potensi besar
untuk membangun sinergi keilmuan dan peradaban. Asia Tenggara berpotensi menjadi pusat peradaban Islam dunia. Kita perlu memiliki obsesi dan misi untuk membangun martabat Islam bukan hanya lewat politik dan ekonomi, tetapi juga melalui ilmu
pengetahuan dan integrasi peradaban, seperti halnya Bagdad pada masa kejayaan Islam.
Gagasan dan dorongan agar Asia Tenggara menjadi pusat peradaban Islam Dunia sangat membanggakan, namun memerlukan penerjemahan lebih lanjut berupa konsep dan policy brief yang komprehensif pada masing-masing negara dan untuk semua negara. Peran masjid, pesantren dan perguruan tinggi Islam, ekonomi syariah, ekonomi halal, diharapkan memberi sentuhan terhadap misi mewujudkan pusat peradaban Islam yang mencerdaskan dan mensejahterakan umat dan bangsa.
Forum pertemuan atau mesyuarat MABIMS tahun 2025 mengusung tema
“MABIMS Memperkukuh Ummah Madani Serantau Menuju Al-Falah” yang
dirangkaikan dengan Melaka International Halal Festival.
Suatu kehormatan bagi saya mendapat penugasan dari Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, untuk mengikuti kegiatan MABIMS, sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia pada sesi Mesyuarat Jawatan Kuasa Teknikal Halal MABIMS 2025 di kota yang bersejarah. Keistimewaan yang langka, kota tempat penyelenggaraan pertemuan MABIMS memiliki nilai sejarah yang patut diingat supaya tidak terputus antargenerasi.
Dr. Mohamad Kori bin Jusoh selaku Timbalan Ketua Pengarah Jabatan Kemajuan Islam Malaysia/Timbalan Ketua SOM Malaysia dalam ucapan pembukaan Mesyuarat Jawatan Kuasa Teknikal Halal MABIMS tanggal 17 Oktober 2025 di Ames Hotel mengatakan pemilihan Melaka sebagai lokasi penganjuran adalah amanat bermakna, sebuah bandar raya yang sarat dengan warisan sejarah, pusat perdagangan maritim Nusantara, dan lambang ketamadunan Islam yang gemilang di rantau ini. Melaka bukan sekadar destinasi pelancongan, tetapi simbol kepada kekuatan ukhuwah islamiyah dan semangat perniagaan halal yang telah lama wujud di Nusantara.
Melayu Sepanjang Abad Melaka dan Aceh merupakan dua daerah penting dalam peta perkembangan Islam periode awal di Asia Tenggara. Seminar Antar Bangsa tentang Sejarah Masuk dan
Berkembangnya Islam di Kepulauan Nusantara yang berlangsung di Aceh pada akhir September 1980 mengambil kesimpulan bahwa Islam pada tahun 173 H atau abad IX M hijriyah telah masuk ke Nusantara lewat Selat Melaka dan mendarat di Tanah Aceh, dari
Tanah Aceh, Islam berkembang ke seluruh Nusantara.
Islam datang ke Kepulauan Nusantara membawa kecerdasan dan tamaddunb(peradaban). Agama ini disiarkan dengan damai, bukan dengan jalan kekerasan. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, seorang cendekiawan Muslim Melayu berpendapat bahwa Islam sudah masuk ke bumi Melayu pada abad VII dari Jazirah Arab. Hal itu didukung
letak geografis semenanjung yang sangat strategis pada lintas jalur perdagangan ArabCina.
Dalam buku Jejak Islam Di Nusantara (Adi Teruna Effendi dkk, 2019) diungkapkan sejak abad pertama hijriyah kawasan laut Asia Tenggara khususnya Selat Melaka memiliki kedudukan yang sangat penting, terutama sebagai rute perdagangan internasional yang menghubungkan negeri-negeri di Asia Timur, Asia Tenggara, dan
Asia Barat. Jalur maritim abad VII hingga XIII Masehi terbentang dari Teluk Persia hingga ke Cina melalui Selat Melaka.
Kota Melaka yang saya saksikan beberapa hari, merupakan negara bagian Malaysia yang maju, teratur, bersih, modern dan indah di berbagai sudut kota. Di jalan raya pandangan mata saya tertuju pada bangunan Mahkota Medical Centre dan Melaka Hospital, rumah sakit yang jadi pilihan sebagian warga Indonesia terutama dari Sumatera berobat ke sana karena kualitas pelayanan medis yang nyaman, di samping rumah sakit terbaik di dalam negeri.
Ketika singgah ke Muzium Sejarah dan Etnografi, lokasinya tidak jauh dari Bukit Melaka, di taman belakangnya terdapat monumen patung Laksamana Cheng Ho, seorang muslim, utusan dari Kaisar Cheng Tsu. Ia berlayar dari Tiongkok tahun 1405 dan singgah di Melaka menyerahkan hadiah Kaisar Tiongkok (Cina) kepada Sultan Melaka. Museum bangunan tua di atas bukit tersebut menampilkan diorama penyerahan kuasa dari Portugis kepada Belanda dan tonggak-tonggak kesejarahan lainnya yang perlu dikenang sebagai
pelajaran bagi generasi masa kini. Melaka memiliki sosok kepahlawanan legendaris yang bijaksana dan gagah berani yaitu Hang Tuah dan Hang Jebat.
Petang hari Jumat tanggal 17 Oktober 2025 saya pertama kali menginjakkan kaki di bangunan replika Istana Kesultanan Melaka. Konstruksi bangunannya berbahan kayu yang kuat dan kokoh dengan arsitektur yang menawan. Saya menyaksikan di istana
sultan, gambaran cukup lengkap mengenai adat istiadat, antropologi, akulturasi budaya Eropa yang tidak bertentangan dengan agama, dan perikehidupan masyarakat agraris
yang serupa dengan kultur masyarakat pedesaan di Indonesia.
Di kota Melaka terdapat beberapa museum yang memanggil ingatan kolektif rumpun bangsa Melayu tentang kejayaan peradaban. Museum sekaligus mengingatkan para pengunjung dengan tragedi kejatuhan Melaka di masa silam akibat imperialisme/kapitalisme Barat yang datang untuk menjajah negeri Melayu. Ada Museum Islam Melaka, Museum Rakyat, Museum Sejarah dan Etnografi, dan lain-lain.
Melaka dan daerah sekitarnya direbut oleh Portugis pada tahun 1511. Selat Melaka dahulu merupakan Teluk yang mempersatukan negeri-negeri Melayu di Sumatera. Selat Melaka kemudian menjadi pemisah negeri-negeri Melayu, setelah masuknya penjajahan
Portugis, Inggris dan Belanda. Bandar Melaka adalah bumi Nusantara yang pertama jatuh ke tangan orang Barat, dimana D’alburquerque, seorang laksamana Portugis berlayar dari
Timur sampai ke Melaka, dengan tujuan menaklukkan kekuasaan Sultan Mahmud Syah hingga menduduki wilayahnya. Jatuhnya Melaka adalah suatu musibah. Namun Prof. Dr. H.M. Rasjidi menyatakan bahwa kejatuhan Melaka adalah suatu blessing in disquise
yang mempercepat proses penyebaran Islam di Indonesia dalam skala dan kecepatan lebih besar di masanya.
Dalam buku Sejarah Umat Islam, penerbit Pustaka National PTE LTD Singapura, 1994, Prof. Dr. Hamka menggambarkan keramaian kota Melaka abad XIV M. Hamka menulis, “Kota Melaka ramai, kapal bersilang siur keluar dan masuk negeri, dari Jawa membawa hasil beras, dari Maluku membawa rempah, dari Sulawesi membawa setanggi Makassar yang terkenal, dari Sumatera membawa kapur barus, dari Khurasan, dari India, apalagi dari Tanah Arab.”
Tidak bisa dipungkiri bahwa Islam adalah jantung peradaban dan kebudayaan Melayu. Bahkan kini ada organisasi Dunia Melayu Dunia Islam yang secara berkala mengadakan pertemuan. Secara geografis wilayah Melayu mencakup seluruh Malaysia, sebagian besar wilayah Indonesia, wilayah Brunei Darussalam, Singapura, Thailand
Selatan dan Filipina Selatan. Dalam sejarahnya Kerajaan Islam Melayu pertama di Kepulauan Nusantara bahkan di Rantau Asia Tenggara adalah Kerajaan Islam Perlak di Aceh Timur yang
diproklamirkan tanggal 1 Muharram 225 H/tahun 845 M.
Selain itu, Kerajaan Islam Melaka berdiri pada tahun 1400 sebagai kelanjutan dari Kerajaan Islam Pasai. Pendiri dan Sultan Kerajaan Islam Melaka yang pertama ialah Sultan Muhammad Syah. Menurut Buya Hamka, Sultan Muhammad Syah adalah pembangun utama adat istiadat Melayu Islam. Setelah ia mangkat digantikan oleh putranya yakni Sultan Iskandar Syah. Kerajaan Islam Melaka berdiri dalam abad keempat belas dan kelima belas Masehi. Adapun nama Melayu, menurut sejarahnya mulai timbulnya di Pulau Sumatera. Jembatan Selat Melaka
Saya menyimpan buku Jembatan Selat Melaka karya ulama dan sastrawan terkemuka Aceh, Prof. A. Hasjmy, yang saya peroleh sebagai kenangan-kenangan dari Fachri Hasjmy sewaktu kunjungan ke Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy di Banda Aceh 27 Agustus 2003, setahun sebelum musibah Tsunami Aceh dimana adik Ali
Hasjmy itu wafat sebagai syahid. Dalam buku yang diterbitkan oleh Pusat Informasi Sejarah dan Kebudayaan Islam/Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy tahun 1997 mengemukakan bahwa setiap orang (1) yang berbahasa Melayu, (2) yang menganut agama Islam dan (3) yang mengikuti adat-istiadat Melayu adalah orang Melayu.
Dalam buku tersebut Ali Hasjmy yang pernah menjabat Gubernur/Kepala Daerah Provinsi Aceh dari tahun 1957, dan Gubernur Daerah Istimewa Aceh tahun 1959 – 1964 mengutarakan, “Pada awalnya Kebudayaan Melayu belum mempunyai identitas yang kukuh dan tidak mempunyai pengaruh berkesan di Rantau Asia Tenggara, bahkan tidak juga di Dunia Melayu sendiri. Setelah datang Agama Islam barulah ia mendapat kekuatan dan membentuk dirinya dengan wajah yang disinari Nur Ilahi. Dalam perjalanan
sejarahnya yang panjang, Melayu telah menjadi satu dengan Islam.” Lebih jauh ditegaskan; Kerajaan Melayu ialah Kerajaan Islam. Gugusan Kepulauan Nusantara yang mempergunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perhubungan adalah Dunia Melayu, dan Dunia Melayu identik dengan Dunia Islam. Bahasa Melayu telah dipergunakan sebagai media Dakwah Islamiyah semenjak awal sejarahnya di Nusantara ini, dan sebaliknya Dakwah Islamiyah telah menjadi media pengembangan dan pembinaan bahasa Melayu, sehingga bahasa Melayu menjelma menjadi bahasa antarbangsa, bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa seni budaya. Untuk itu Dunia Melayu Raya sebagai kekuatan budaya perlu terus dibina untuk mendukung ASEAN sebagai kekuatan politik dan ekonomi.
Dalam perputaran zaman mengikuti sunnatullah, setelah di Singapura, orang Melayu menetap di Melaka. Kota ini berkembang menjadi Ibukota Kesultanan Melaka. Kesultanan Melaku di masa jayanya meliputi sebagian besar dunia Melayu, bukan saja di
Semenanjung Tanah Melayu, tetapi juga wilayah-wilayah tertentu di Sumatera seperti Sumatera Tengah, tutur Ali Hasjmy. Sejarah dan etnografi Melayu mengabadikan nama dan jejak sejumlah kerajaan Islam atau kesultanan rumpun Melayu di bumi Nusantara,
setelah kejatuhan Melaka ke dalam penguasaan Portugis. Dunia Melayu Jantung ASEAN Dunia Melayu dapat disebut sebagai jantung ASEAN. Dunia Melayu diharapkan memainkan peran dalam merekat persatuan umat Islam, membela harkat-martabat kemanusiaan dan menjaga gawang perdamaian abadi yang berlandaskan kemerdekaan
dan keadilan sosial. Setiap konflik di wilayah serumpun ini pasti berisiko kerugian sosial
dan kemunduran peradaban.
Energi umat Islam khususnya bangsa Melayu tidak boleh habis termakan persoalan-persoalan remeh-temeh yang tidak prinsipil dan tidak substantif. Bangsa Melayu dan khususnya umat Islam harus terbiasa berpikir strategis dan bekerja kolaboratif dalam mengantisipasi tantangan zaman dan merebut peluang masa depan. Hal itu seperti dicontohkan oleh para bapak bangsa Melayu dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan tanah air masing-masing dari hegemoni penjajahan. Prof. Dr. Hamka, seorang ulama besar dan pujangga Islam serta Pahlawan Nasional Indonesia yang dihormati dan dicintai di seantero Tanah Melayu dalam buku
Kenang-Kenanganku Di Malaya (2019) menyatakan, Indonesia dan Malaya adalah dua nama daripada satu negeri yang dahulunya hanya satu, dan perpecahan itu setelah kota Melaka dirampas Portugas. Buya Hamka mengutip ucapan Hang Tuah, “Bahwa Melayu
tidak akan hilang dari dunia!”.
Umat Islam dalam mengibarkan panji-panji Dakwah Islamiyah dan membangun masyarakat yang berkeadaban diharapkan saling menolong, saling melengkapi, dan saling mengisi. Jangan yang satu merusak hasil dakwah yang lainnya lantaran persoalan
khilafiah, kesalahpahaman atau kepentingan kelompok yang mengalahkan kepentingan bersama. Syiar agama adalah aspek yang perlu dirawat, tetapi substansi beragama juga sangat penting dan menentukan. Dunia Melayu perlu mewaspadai anasir yang dapat
melemahkan agama dan moril generasi bangsa di kawasan ini, seperti narkotika, kerusakan akhlak akibat pergaulan bebas, ekstremisme, kesenjangan ekonomi, dan sebagainya.
Bangsa Melayu tidak boleh terjebak dalam adu-domba sebangsa dan antarbangsa, merendahkan bangsa sendiri, menyalahkan-nyalahkan apalagi menstigmatisasi sesama muslim yang seiman dan sama kiblat shalatnya. Gejolak politik yang kontraproduktif,
segala ucapan dan tindakan yang memecah belah persatuan dan kerukunan antarbangsa harus dicegah dan dihindari. Prinsip-prinsip aqidah islamiyah, ukhuwah islamiyah dan cita-cita masyarakat madani yang moderat perlu senantiasa dipedomani sebagai perekat integrasi umat yang menjembatani perbedaan paham, golongan dan kepentingan politik. Dakwah dan ukhuwah adalah jawaban umat Islam terhadap situasi kekinian dan
ikhtiar mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Dakwah yang relevan di masa kini tidak hanya “dakwah dengan suara”, tapi juga “dakwah tanpa suara” yakni dakwah bil hal, dakwah dengan amaliah atau perbuatan yang bermanfaat dan membawa kemaslahatan bagi umat manusia sejalan dengan misi Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawab.
Tulisan ini terbit lebih dulu di https://kemenag.go.id, Senin 20 Oktober 2025.